Apa itu Headroom

Headroom adalah jarak antara signal kita dengan maksimum yg diijinkan.
Contoh nya dalam dunia digital nilai maksimal adalah 0 dBFS, apabila signal kita adalah - 8 dBFS maka dikatakan kita memiliki headroom 8 dB.

Mengapa kita perlu headroom? Karena instrument yang kita rekam memiliki dinamika, dan kita tidak yakin berapa kencang si player akan bermain atau vocalist akan bernyanyi. Jadi kita menyisakan headroom untuk menjaga jangan sampai terjadi digital clipping.

Mungkin kita sering mendengar untuk merekam dengan volume maksimal. Ini sama sekali tidak benar dan berbahaya. Ketika merekam kita harus menyisakan headroom yang cukup untuk menjaga terjadi nya digital clipping, karena kalau digital clipping sudah terjadi maka tidak dapat diperbaiki.

"Record it hot" berasal dari jaman analog dimana apabila signal bertambah, maka akan terjadi "tape saturation" dimana pita berfungsi semacam compressor dan hasil juga tidak akan pecah.

Berbeda dengan digital, apabila sudah mencapai 0 dBFS maka tidak ada lagi bit untuk me-representasi kan kelebihan nya maka terjadilah clipping.

Kalau kita merekam dengan 24 bit, sound card kita memiliki s/n ratio lebih dari 110 dB, secara teori 144 dB. Tidak apa menggunakan 10 atau 15 dB nya sebagai head room untuk mencegah digital clipping.

Dengan kata lain kalau merekam dengan 24 bit, jangan takut memberi headroom lebih. Lebih aman lebih baik.

Apa itu Noise Floor?

Noise Floor itu adalah garis atau nilai terendah dari dynamic range yg kita miliki. 

Misalnya kita punya sebuah sound card dengan dynamic range 114 dB. Karena kita tahu dalam dBFS signal maksimum adalah 0 maka secara teori signal minimum nya adalah -114 dBFS. Artinya kalau kita merekam signal kosong dengan sound card tersebut maka signal yg kita dapat adalah -114 dB. 

Pada praktek nya sangat sulit dicapai karena adanya noise dari komponen elektronik + preamp + dsb nya mungkin apabila bisa mendapatkan noise floor -105 dB sudah sangat bagus

Dilarang meng copy artikel tanpa seijin penulis (Rudi Dolphin)