Q & A Seputar Mastering


Q : Apa perlu mastering menggunakan 2 komputer? komputer 1 lagi merekam dengan 44.100 khz 24bit agar kualitas 48.000khz tidak hilang.
A : Saat komputer kedua merekam dengan sample rate 44.1 khz maka semua frekuensi diatas itu akan dipotong. Jadi kualitas 48.000 nya pasti hilang. Betul untuk rekam balik nya masih pakai 24 bit. Nanti di rubah ke 16 bit saat terakhir kalau sudah di brick wall limiter dan tidak ada headroom. Pemotongan dari 24 bit ke 16 bit biasanya menggunakan dither. Saat kita melakukan dithering, sebagian informasi 24 bit bisa tersimpan di dalam 16 bit. Dither yg terkenal adalah UV22 dari Apogee tapi sekarang banyak juga spt waves, dsb nya yg mengeluarkan produk sendiri. iZotope punya juga lumayan bagus

Untuk bahan mastering yang sudah 44.1 tidak perlu menggunakan dua computer, cukup satu saja. Pemakaian dua buah computer karena misalnya bahan mastering kita sample rate nya 48 khz. Setelah dilempar keluar untuk outboard processing maka tidak bisa direkam di computer (soundcard) yang sama. Kalau komputer yg sama, hasil yang direkam ya tetap 48 khz donk hehe. Jadinya dari outboard gear direkam nya ke DAW 2 yang mana sample rate nya di set ke 44.1

Apabila di resample secara digital dari 48 khz ke 44.1 khz maka kualitas nya akan turun. Cara terbaik adalah dari awal rekam di 44.1 khz. Kalau ingin high resolution tapi nantinya di resample, maka rekam di 88.2 khz karena algorithm nya tinggal dibagi 2

Q : Kalau hasil akhir CD Red Book Standard adalah 44.100 hz, kenapa ada orang yang merekam dengan sample rate 48.000 ?

A : Pada awal nya masa digital, kebanyakan converter kelas menengah tidak memiliki Brickwall Antialiasing Filter yang cukup baik. Sehingga beberapa memilih untuk rekam di 48 khz. Nanti dirubah ke 44.1 nya pada saat Mastering. Biasanya Mastering Studio memiliki converter yg baik, misalnya dengan fasilitas over sampling.

Q : Mengapa dibutuhkan Low Pass Filter saat A/D Conversion?

A : Low Pass Filter dipakai sebelum signal diubah menjadi digital, gunanya adalah untuk mencegah aliasing. Maka dari itu terkadang disebut juga Antialiasing Filter. Seperti kita lihat pada Nyquist theorem

  • Input signal di sample dengan sample rate 2 x lipat frequency yg kita inginkan
  • Semua frequency diatas setengah dari sample rate (Nyquist Frequency) akan kita hilangkan dengan filter sebelum proses sampling.

Jadi misalnya kita merekam dengan sample rate 44.100 berarti semua frequency diatas 22.050 hz perlu kita hilangkan menggunakan LPF. Converter modern sekarang ini sudah memiliki filter yang cukup baik. Jadi tidak masalah untuk merekam di sample rate 44.100

Akan tetapi converter generasi sebelumnya, belum memiliki LPF sebagus sekarang. Pada awal nya, digital recording sering terdengar kering dan kasar yang dikarenakan kualitas dari antialiasing filter nya belum sempurna. Jarang analog filter yang filter slope nya curam dan juga phase linear. Kalaupun ada biasanya adalah "mastering class converter" dan harganya mahal sekali. Untuk yg dipakai studio kebanyakan, apabila cutoff frequency pada 22.050 hz bisa jadi ada phase distortion hingga ke frequency yg dibawahnya misalnya 20 khz. Maka dari itu sering digunakan sample rate 48.000 dengan maksud untuk menjauhkan LPF dari ambang batas pendengaran manusia (20.000 hz)

Q : Apa itu aliasing?

A: In data acquisition systems, aliasing is a sampling phenomenon that can cause gross errors in results and reduce the accuracy of the data collected by an A/D card, which converts the analog output of a sensor into a digital number that can be read by the acquisition system's computer. It occurs whenever an input signal has frequency components at or higher than half the sampling rate. If the signal is not correctly band limited to eliminate these frequencies, they will show up as aliases or spurious lower frequency errors that cannot be distinguished from valid sampled data. The alias signals are actually at a higher frequency, but are converted by the sampling process to a false frequency below half the sampling rate. For example, with a sampling rate of 1,000 Hz, a signal at 800 Hz will be aliased to 200 Hz (the false lower frequency). Thus, aliasing is a phenomenon that occurs when a high-frequency component effectively takes on the identity of a lower frequency.

Q : Apa itu Jitter?

A : For analog-to-digital conversion (ADC) to result in a faithful reproduction of the signal, slices, called samples, of the analog waveform must be taken frequently. The number of samples per second is called the sampling rate or sampling frequency.

In analog to digital and digital to analog conversion of signals, the sampling is normally assumed to be periodic with a fixed period - the time between every two samples is the same. If there is jitter present on the clock signal to the analog-to-digital converter or a digital-to-analog converter, the time between samples varies and instantaneous signal error arises.

Sample rate adalah banyaknya sample yang diambil dalam satu detik. Misalnya sample rate 44.1 khz berarti dalam satu detik converter mengambil 44.100 buah sample.

Untuk dapat merekam/playback dengan baik, sangat penting bahwa converter mengambil tiap sample dengan jarak yang sama. Apabila terjadi perubahan jarak antara sample atau disebut juga jitter, maka hasil rekaman yang dihasilkan akan blur, tidak bening, butek, dsb nya. Juga hilangnya depth, nuansa dan detail dari sebuah rekaman.

Begitu pula hal nya dengan playback. D/A Converter yg ada jitter, waktu atau jarak antara sample berubah atau menjadi tidak konstan (timing nya tidak presisi). Maka yg biasa terdengar hasil playback nya akan kehilangan detail, dan stereo image.

Dilarang meng copy artikel tanpa seijin penulis (Rudi Dolphin)